Bab. :1. (Chapter one)
"Andra banguuuuun!"Seruan Mbok ijah--pembantunya--diantara gedoran pintu sayup-sayup masuk ke telinga Andra.mengusik mimpi indahnya."Andraaaa,udah pukul enaaaaaam!Ntar telat lhoooo!"
Pukul 6.00! Seketika itu juga,mata Andra terbelelek lebar. Apa dia tak salah dengar? Andra segera melompat bangun,dan melirik jam wekernya."Iya,Mbooook!"
Bagai tersengat tawon segede gajah,Andara langsung ngibrit ke kamar mandi. Dia harus bergegas supaya tidak terlambat sekolah. Andra mendengus kesal. Ini semua gara-gara Anggie--sepupunya--sedang patah hati. Sepanjang malam,Andra merelakan telinganya disiksa oleh curhatannya. Andra tidak mengerti,kenapa anggie harus sesedih itu. Dengan wajahnya yang cantik dan.tubuhnya yang bagus,anggie tidak pernah kehabisan penggemar. Selalu ada saja cowok yang mendekatinya. Hanya saja,Anggie yang terlalu pemilih--lebih tepatnya,matre!
Tapi bukan Anggie yang membuat Andra kesal,melainkan Bayu--kakaknya Anggie sekaligus sahabat dan teman sekelasnya--yang tak membangunkannya. Pasti bayu masih bete padanya gara-gara cewek yang dia taksir malah naksir Andra. Tapi,itu kan bukan salahnya?Dia tidk melakukan apa-apa,dan--yang terpenting--sama sekali gak naksir cewek itu. Seharusnya,Bayu pakai otak,bukan pakai emosi!Bayu kan tahu,kalau dia gak mungkin naksir cewek itu! Andra mendengus kesal.kalau saja tak ingat bahwa Bayu adalah sepupunya,ingin rasanya Andara melempar Bayu ke kandang singa.
Andra tidak mngerti kenapa Bayu selalu terasa terintimidasi dengannya. Padahal,wajah Bayu tidak termasuk kriteria jelek. Hanya hidungnya saja yang agak pesekk saja yang membuat kalah cakep daripada Andra. Tapi,tubuh Bayu lebih tinggi daripada Andara dan lebih berotot pula. Jadi,kenapa harus minder hanya gara-gara kurang mancung?Untuk ke-117 kalinya,Andra mendengus kesal. Situasi di dalam metro mini pagi itu sangat padat hingga sulit untuk merayap. Tubuh ceking Andra terjepit diantara penumpang yang berjubel,sama sekali tak bisa bergerak. Setelah bengon selama beberapa saat--karena nyawa yang seluruhnya belum terkumpul--perlahan,mata Andra mulai terpejam. Kepalanya terangguk-angguk diayun kantuk. Entah berapa lama ia tertidur hingga tiba-tiba sebuah sikutan di tubuhnya mengejutkannya. Andra membuka matanya,lalu mengitip ke luar jendela. Matanya terbelelek saat menyadari sekolahnya sudah terlewat.
"BAAAANg!STOP PINGGIR, BANG!" Andra mengedor kalap kap metromini,lalu berjuang menyelipkan tubuh cekingnya diantara penumpang yang berjubelan. Gerutana penumpang yang semakin terjepit atau terdorong olehya tak dipedulikannya sama sekali.
Kenek yang bergelayut melirik Andra sekilas dengan tatapan kesal,seolah-olah Andra sudah berkali-kali menjadi penumpang gelap di bus nya. Kemudian,ia melolong kepada supir metromini dan menyuruh sipirnya untuk. Berhenti. "Makanaya,jangan ngelamun aja, Bang!" Ngomong si kondektur galak. Andra mencengkaram bodypack-nya erat-erat dan melompat turun. Untunglah dia bangun hingga sekolahnya tidak terlewat terlalu jauh. Tapi,itu berarti waktunya semakin sedikit! Bisa gawat dia kalau belum sampai di dalamke sekolah sebelum penjaga sekilah menutup gerbang masuk. Kalau disuruh sekedar lansung disuruh pulang si gak masalahm andra malah seneng banget. Tapi,kalau disuruh menghadap guru BP dan dikasih surat untuk orang tua,Andra bisa mati berdiri. Satu-satunya hal yang paling ditakutinya adalah ayhnya. Baru melihat ayahnya berkerut dalam dan menatapnya dengan pandangan--yan bisa menyayat-nyayat pupil matanya kalau membalas tatapannya--saja,sudah bisa membuat Andra koma. Apalagi,kalau sampai beliau murka kan? Sudah pasti. Dia sudah sampi titk!.
Andra mempercepat larinya. Sedikit,dia sampai si sekolahnya. Tinggal melewati Universitas Pelita Bansa. Tinggal dua ratus meter lagi ia haurs menguras keringat pagi hari ini--pengorbanan yang tidak seberapa bila dibandingkan dengan bila melihat ke murkaan ayahnya. Andra terus berlari bagai di kejar anjing buduk milik Pak Dicky,tetangganya. Sama sekali tidak dipedulikan tatapan heran orang-orang yang berpapasan dengannya. "Aiiiiiih..Lucuunyaaaa!" Beberapa cewk yang bertatapan dengannya menjerit histeris. "Duuh,rajin banget sih,ke sekolah sambil lari pagi?"
"Adiik daripada capek lari-lari,mending godain kakak aja sini."Andra terus berlari. Telinganya seolah tertutup dari godaan-godaan "setan" yang menatapnya dengan wajah mupeng.
"Dra! Andra!"
Mendengar sura yang dikenalnya memanggil,Andra mengurangi kecepatanya dan menoleh. Dia mendengus kesal saat melihat Sony. Sahabatnya yang satu ini berubuh tinggi besar. Rambutnya ikal dan kulitnya legam. Saking legamnya,Andra,Bayu,danDino--sahabatnya yang satu lagi--selalau menyuruhnya membawa senter saat malam hari agar tidak tertabrak kendaraan saking gelapnya. Lalau dia tidak punya senter,yah paling tidak dia harus sering-sering nyengirlah. Soni terkenal paling bolot diantara mereka ber empat. Bahkan,kadang seperti hidup di dunianya sendiri. Andra tidak tahu apakah dia sedang melamun atau sedang melamun dengan mahluk halus. Bukan gak mungkin kalau dia lebih yambung dengan mahluk yang enggak kelihatan? Otaknya saja agak-agak gaib--saking kecilnya,sampai hampir tidak terlihat. Tapi,meski sering putus asa saat diajak ngobrol,Soni memiliki rasa setia kawan yang tinggi. Dan,sekarang,Grizzley itu sedang berusaha menyusulnya. Andra kembali meningkatkan kecepatan larinya. Untuk apa dia menunggu?Tujuan mereka sama,dan Soni tidak terserang amnesia atau otaknya mendadak semakin menghilang dari tempat tempurung kepalanya, sampai tak tahu lagi di mana letak sekolahnya. Melihat Andra semakin tidak berniat menunggunya. Soni mempercepat larinya. "Eit busyet dah ! Tungguin napa!?!"
. Andra cuek. Dia terus berlari seolah sedang berlari di lintasan olimpide atletik dunia.
"DRAAA!".soni kembali memanggil dengan putus asa. Tiba-tiba.....
"ANDRAAA!!!AWAASS!!!".soni mengaum sambil mata terbelalak ngeri.
CIIIIT!"..suara decitan keras sang mobil yang beradu dengan aspal, membuat Andra terkejut setengah mampus..Kedua kakinya beradu dengan aspal, membuat Andra mendadak berhenti berlari. Matanya terbeliak saat melihat sebuah “BMW” merah mengilat mlaju kearahnya dan berhenti tak sampai satu meter dari tempatnya berdiri. Wajah Andra pucat pasi seketika. Cowok di balik kemudi menatapnya dengan mata membelalak. Setelah terpaku beberapa saat, cowok itu menurukan kaca jendela mobilnya dan mengeluarkan sebagian tubuhnya. Ditatapnya Andra yang masih berdiri diam seribu bahasa di depan mobilnya,dengan mata melotot, kesal bercampur lega—karena masih sempat mengijak rem. Wajahnya tak kalah pucat dengan wajah Andra. “Gila lo ya?! Udah bossen hidup lo?!”
Andra hanya bisa bengong,seolah-olah menjadi satu habitat dengan soni. Bibirnya komat-kamit seperti ikan sapu-sapu kekurangan air. Jantungnya berdebar sangat cepat hingga membuat tubuhnya terasa lemas. Tapi,ada reaksi aneh didalam dirinya saat menatap cowok itu. Seperti ada yang mengaduk-aduk isi perutnya. Apakah memang seperti ini rasanya saat nyawa terasa di ujung jalan....eh, tanduk?
Soni berlari menghampiri Andra yang masih bengong di tempat. “Sori,Bro!” serunya sambil melambaikan tangan pada cowok yang mengemudi mobil, lalu menyeret Andra yang masih linglung kkepinggir jalan. “Lo ngeliatin apaan sih?” tanya
Soni saat menyadari Andra berkali-kalimenoleh ke arah mobil yang hampir saja menabraknya. “nyesel nggak jadi ketabrak?”Andra melototi Soni, kesal. “Lo pikir gue udah gila?!”Andara menarik lengannya hingga terlepas dari cengkraman temannya yang bertubuh segede gizzley itu dan kembali berlari. Meninggalkan Soni begitu saja. Terpakasalah Soni kembali berolahraga pagi untuk menyusul Andra.
Kejadian pagi ini membuat kekesalan Andra pada Bayu menguap begitu saja. Ternyata,tak hanya kekesalan Andra saja yang hilang,Bayu juga. Begitu mendengar cerita Soni tentang peristiwa yang nyaris merenggut nyawa Andra,sikap Bayu terhadap Andra berubah manis—sepanjang hari. Bahkan—yang sulit dipercaya—mengajak Andra makan bakso pak Atmo sepulang sekolah. Tidak hanya Andra,bahkan sahabat-sahabatnya yang lain juga begitu. Ini peristiwa terlangka dalam hidupnya. Saking langkanya, Andra ingin mendaftarkan peristiwa ini ke MURI. Begitu bel tanda pelajaran usai berbunyi, dengan penuh semangat, ketiga remaja itu menuju warung bakso pak Atmo yang terletak di samping kampus Pelita Bangsa. Tapi,semangat mereka merosot tajam saat mendapati tak satu mejapun yang kosong, Warung bakso Pak Atmo memang tak pernah sepi dari pengujung yang sebagian besar adalah mahasiswa Pelita Bangsa. Andra sangat kecewa melihat besarnya kemungkinan kehilangan momen”terlangka”dalam hidupnya. “yah,gimana niiiih?”gumam Soni kecewa.”Tunggu bentar,deh.”Andra menenangkan sambil melihat setiap meja di depan warung dengan seksama. Harapan Andra muncul saat melihat tiga mahasiswa bergerak meninggalkan meja. Terdorong rasa takut tak akan ada kesempatan lagi untuk menikmati makan gratis,Andra bergerak cepat. Dia menulusup diantara dua orang cewek—yang yang sudah lebih dulu menunggu meja kosong—menghampiri meja tersebut dan menduduki bangku plastik yang baru saja ditinggalkan penghuninya. Dengan wajah penuh kemenangan,dia melambaikan tangan kepada Bayu,dan Soni. Sama sekali tak memedulikan cewek yang menatapnya dengan wajah cemberut. Bukan salahnya kan,kalau dia lebih cepat?”Dino lama nggak ya?”tanya Bayu setelah memesan makanan. Belum sempat Andra dan Soni mengucapkan sesuatu,seorang cowok bertubuh kecil,bermata sipit dan berseragam putih abu-abu muncul diambang pintu. Setelah celingukan seperti anak hilang,dia menghampiri meja tiga sahabatnya. “Ngapain aja sih lo?Lama banget?”gerutu Bayu. Soriii, maklum deh, mules banget. Kayaknya,perut gue tau kalau mau ditraktir makanan enak.”Dino mengelus perutnya dengan ekspresi lega. “Gue udah dipesenin belom?”udah.” Lima belas menit kemudian,empat mangkuk bakso yang masih mengepul dan empat teh botol dingin terhidang juga di hadapan mereka. Aroma bakso yang begitu menggoda selera membuat perut Andra semakin menjerit minta diisi. Tanpa menunggu baksonya sedikit dingin. Andra memotong bola daging yang besarnya hampir menyamai bogem orang dewasa itu dan memasukan kedalam mulut. Dalam sekejap, panasnya kuah dan bakso menyengat lidahnya dan membuatnya megap-megap kepanasan. Andra membuka mulutnya dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan mulut. “Rasaian!”Dino nyegir melihat Andra kalang-kabut. “Nggak sabarin siih.”Andra tidak peduli bahkan,seperti tidak mendengar ucapan Dino. Mumpung Bayu merasa menyesal,dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Andra yakin,Bayu bahkan akan menuruti apapun permintaanya hari ini. Begitu terasa terbakar di lidahnya berkurang,dia mmenguyah bakso di dalam mulutnya,menelannya, lalu kembali menggayang bakso dihadapanya. Sesekali,dia menyibakan poni yang menutupi matanya. Dalam sekejap,mangkuk baksonya sudah bersih.licin tandas. Bahkan,secuil seledri atau bawang goreng pun tak terlihat lagi,padahal mangkuk ketiga sahabatnya masih terisi separuh. Kalau saja ada kejuaraan makan bakso,sudah pasti Andra akan menyabet madali emas. Andra mengusap tangannya dengan punggung tangan,lalu menatap Bayu penuh harap. “Semangkuk lagi ya,Bay?”Bayu menatap Andra dengan pandangan menyesal. “Ya,,,Bay,,,Yaaa....”Andra merayu. Bayu menghela napas panjang lalu mengangguk. Menyerah. Dengan riang gembira,Andra segera memanggil asisten Pak Atmo dan memesan semangkuk lagi. Saat menikmati hasil jarahan yang kedua,tiba-tiba Soni mmenyikut pinggan Andra hingga nyaris membuatnya tersedak.”Lo mau buat gue mati kecekik bakso ya?”ditatapnya Soni dengan mata melotot kesal. “itu kan cowok yang hampir nabrak lo,Dra,”Soni sama sekali tidak memedulikan kekesalan Andra,menujuk pintu masuk dengan dagunya. Sambil menggerutu,Andra mengalihkan matanya kearah pintu masuk. Seluruh darah didalamnya membeku saat menatap sosok cowok yang hampir menabraknya tadi pagi. Cowok itu melambaikan tangan kepada dua cowok yang duduk di meja di tengah ruangan,lalu menghampirinya. Dengan susah payah,Andra menelan ludahnya. Hyah ampuuuuuuun,ternyata cowok itu lebih cakep dari pada yang di duga. Tubuhnya tinggi dan atletis. Untuk ukuran cowok,kulitnya cukup putih dann—yang paling penting—bersih. Rambutnya yang lurus dibiarkannya melewati kerah kemejanya,bargaya harajuku. Wajahnya oval. Sepasang alis tebal yng nyaris menyatu menaungi matanya yang seolah memancing. Hidungnya mancung dan bagus. Jantung Andra langsung Dag-dig-dug-dhueeer saat melihat dua lesung muncul dari kedua pipinya saat dia tertawa. Di mata Andra,cowok itu cowok paling keren yang pernah dilihatnya. Tiba-tiba saja,perut Andra teras mulas,persis sepperti tadi pagi. Andra tak mengerti penyababnya. Apakah karena pencernaanya sedang terganggu atau gara-gara melihat cowok itu. “kenapa jadi bengong gitu?”pertanyaan Bayu membuat Andra terasadar dari lamunanya. Andra menggeleng, lalu secepatnya menundukan kepala untuk menyembunyikan keresahannya. Kembali melanjutkan pengesekusian bola daging yang besar dan lezat di hadapanya. Untunglah ketiga sahabatnya sudah melanjutkan obrolan hingga tidak menyadari wajahnya yang merona. Tapi,tampaknya,matanya tak mau diajak kompromi. Berkali-kali matanya menepi kesudut mata melirik si Ganteng. Saat dilihatnya siGanteng tertawa—Andra seolah-olah kehilangan paru-parunya. Tak bisa bernapas. Hyah ampuun, kenapa sih dia?”koq jadi anneh gini?”Udahan belom,Dra?” Sekali lagi,Bayu mengejutkan Andra. Tanpa menatap dia mengangguk. “Masih mau tambah?”Andra memandang sepupunya dengan pandangan kecewa. Seandainya saja si Ganteng tidak tiba-tiba muncul,dia pasti tidak membiarkan tawaran yang mahalangka ini. Kehadiran cowok itu sudah membuat selera makannya ngumpet entah dimana. Akhirnya dia hanya bisa menggeleng dan menyedot teh botonya hingga tuntas. “cabut,yuk?”kata Bayu setelah membayar makanan mereka. Sekali lagi Andra kebingungan. Kali ini, bokongnya yang tidak mau menuruti perintah otaknya,seolah-olah enggan berpisah dari bangku plastik yang sudah menderita osteoporosis stadium satu itu, Andra harus berjuang untuk mengangkat tubuhnya dari bangku, lalu mengikuti ketiga sahabatnya dengan pandangan lurus menatap ke arah sepatu Dino—yang berjalan didepannya. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak melirk si Ganteng. Ternyata. Usahanya sia-sia,saat melewati meja si Ganteng,matanya seolah bergerak di luar kehendaknya,melirik cowok itu. Dan,sekejap,perut Andra kembali teraduk-aduk. Hyah ampuun,ini ggak beres! Sudah pasti ada yang salah dengan dirinya. Tapi,apa?Dan,kenapa?Andra mendesah resah. Dia tak tahu jawabanya. BAB II(chapter two) Andra mengalihkan padanganya dari Bayu yang penuh dengan semangat membabi buta,menceritakan tetang cewek yang dikenalnya di plangi kemarin. Matanya menyapu halte tempatnya menunggu bus,tapi tidak ada obyek yang menarik untuk diamati. Selain pedagang asongan,hanya ada segerombolan anak STM kelas 3 yang juga sedang menunggu bus. Andra mengalihkan pandangannya ke jalan raya,lalu tenggelam dalam lamunan. Lamunan Andra terusik saat sebuah metromini berhenti di depan halte dan gerombolan murid kelas 3 berebutan naik. Karena pandanganya terhalang oleh metromini,Andra mengalihkan pandanganya ke trotoar. Saat itu,matanya menangkap seorang cewek melangkah mendatangi halte. Sepertinya,Mahasiswa Universitas Pelita Bangsa. Wajahnya cantik mirip Luna Maya dalam versi mini—tubuhnya mungil. Ah,tapi dia tidak tertarik. Baru saja Andra mengalihkan pandanganya kearah lain,tiba-tiba dilihatnya seorang laki-laki—yang sejak tadi bersandar pada sebuah pohon besar di samping halte—mendekati cewek itu. Dan,dengan gerakan cepat tak terduga,menya,bar tas Luna Maya versi mini itu. Selama beberapa detik, Andra bengong saat melihat aksi tak terduga di depan matanya. Terlalu terkejut. Suara teriakan si Luna Maya mini-lah yang akhirnya mengembalikan kesadaranya. Andra segera meletakan teh botol di tanganya,beranjak dari bangku halte,lalu mengejar si pencopet. Lari se pencopet lumayan cepat,tapi Andra tidak khawatir. Dia yakin bisa menyusulnya. Tak percuma dia menyabet medali emas dalam olimpiade atletik antar STM selama dua tahun berturut-turut. Benar saja,perlahan-lahan tapi pasti,Andra semakin mempersempit jarak dengan si pencopet. Dan,akhirnya berhasil meraih bagian belakang kerah jaket si pencopet dan mencekramnya kuat-kuat. Merasa dirinya telah tertangkap,si pencopet memutar dan langsungmenyaraangkan tinju ke arah Andra. Namun,Andra tak kalah cepat,Refleks,dia mengelak dan menyerang balik si pencopet,tepat di rahangnya. Tinju anak STM bertubuh ceking itu ternyata cukup kuat hingga membuat tubuh si pencopet limbung. Sebelim si pencopet pulih dari rasa sakitnya. Andra sudah kembali menyerang dengan tendangan maut taekwondo-nya. Tubuh si pencopet langsung terjengkang kebelakang. Tampaknya,hari ini memang hari sial si pencopet. Belum dia sempat bangkit dari aspal, Soni dan Bayu sudah tiba di TKP dan langsung ikut menghajar si pencopet. Sementara si pencopet melolonglol “Ampun,Bang! Ampuuuun!” Mendengar lolongan si pencopet,Bayu segera berhenti menghajarnya. Tapi,tampaknya Soni belum puas. Dia terus menendangi tubuh si pencopet dengan menggorila buta. Dino yang sejak tadi hanya menonton dari jarak aman langsung menghampiri Soni dan menahan cowok itu.”Udah Son,udah?” Tenaga Dino yang bertubuh kecil jelas tidak seimbang dengan Soni. Soni cukup mengibaskan tanganya untuk membuat Dino terjerembab ke aspal. “Udah,Son!”Akhirnya Bayu ikut menyuruh sahabatnya berhenti. Kali ini, Soni menurut. Dia berhenti menghajar pencopet itu, lalu menatapnya dengan wajah garang dan merah. “Awas lo ya, kalo berani-berani nyopet disini lagi!”Iya,Bang,iya.”Gue juga gak mau liat tampang lo disekitar sekolah gue!” salak Dino sambil menepiskan debu yang menempel di celananya. Tidak mau ketinggalan untuk sok galak. Cowok yang satu ini memang besar nyalinya—dengan catatan,kalau berada di dekat ketiga sahabatnya.”Iya,Bang,maaf......””Ya uadah,pergi sana!” Bayu menendang kaki si pencopet. Si pencopet bergegas bengkit dari aspal dan lari terbirit-birit meninggalkan TKP.”Makasih ya....” Suara seorang cewek membuat keempat anak STM itu terkejut setengah mati. Ternyata, si cantik yang kecopetan sudah hadir di TKP. Tak ada yang menyadari sudah berapa lama cewek itu berada di situ,menonton aksi heroik mereka. Luna Maya mini itu tersenyum penuh rasa terima kasih pada keempat remaja yang telah menolongnya. Senyumnya begitu manis hingga membuat,Bayu,Dino,Soni melongo seperti onta kena hipnotis. Hanya Andra yang tak terpengaruh oleh senyuman si cantik,lalu segera menyerahkan tasnya. “Makasih ya.”Si Luna Maya versi mini mengulurkan tangannya,mengajak Andra bersalaman.”Jessica.” “Andra.” Belum lagi tangan Andra telepas dari genggaman tangan halus dan lembut Luna Maya versi mini,Bayu,Soni,dan Dino tersadar dari kebengongannya. Berebutan,mereka mendorong tubuh Andra,lalu—kembali berebutan—menyalami Jessica sambil memperkenalkan diri. Mau tak mau,ulah ketiga remaja itu membuat Jessica terkikik geli.”Lain kali hati-hati,mbak. Jangan meleng kalo lagi nunggu bus.”Bayu sok bijaksana.”iya. mabak. Lain kali,kalo perlu pengawal panggil saya aja.”Dino tak mau kalah. Sok berani. Soni hanya menganga lebar. Jessica terawa kecil.”Makasih ya. Kalian memang hebat banget,”katanya sambil melirik Andra. Hidung Bayu,Dino,dan Soni langsung push-up. Wajah mereka pun merona senang. Bangga banget rasanya mendapat pujian dari cewek secantik Jessica. “Sekarang,Mbak mau kemana?”Pulang?”tanya Bayu. Jesicca mengangguk.”Panggil Jesicca aja dong. Kesannya,gimana gitu,dipanggil Mbak.”Mau kita anterin?”Makasih.”Jesicca menggeleng menolak tawaran Dino sambil tersenyum manis. Begitu manisnya,sampai-sampai membuat iler Bayu,dan Dino menetes dari sudut mereka. “Tapi,kalian mau kan,temenin aku sampe dapat taksi?” Bayu dan Dino mengangguk penuh semangat. Soni masih di posisi bengong, tak bisa berkata-kata. Sementara itu, Andra hanya menghela napas panjang. Sumpah! Dia pusing melihat kenorakan Bayu dan Dino. Terutama Dino,yang jalannya sok di gagah-gagahkan. Berlagak seperti pahlawan,padahal tak bisa berkelahi dan pengecutnya amit-amit jabang baby bangkotan! Nyalinya nggak lebih besar dari nyali batita! %&% Andra mengikuti langkah keluar dari gerbang sekolah,sambil memperhatikan Bayu dan Soni yang sedang bercanda. Entah,siapa duluan yang memulai,atau apa penyebabnya,kedua cowok itu saling mendorong dengan bahu mereka. “Jesicca.” Ucapan Dino membuat Bayu menoleh kearah yang ditunjuk sahabatnya itu. Dia begitu terpana saat melihat cewek Cantik itu tersenyum sambil melambaikan tangan kepada mereka,sampai lupa dia sedang bercanda ala kuli dengan beruang gizzley. Baru saja Bayu akan membalas lambaian tangan Jesicca, tubuhnya sudah terpelanting ke rumput. Andra dan Dino langsung terbahak,sementara Soni bergegas membantu Bayu bangkit. “Sori,”gumam Soni,malu-malu. Tanpa memperdulikan permintaan maaf Soni. Bayu segera berlari keluar pagar sekolah. Menghampiri Jessica yang sedang bersandar pada honda jazz Gold. Soni dan Dino segera berlari menyusul,sementara Andra tetap melangkah santai. “Haai,udah bubar?”sapa Jessica ramah. Bayu,Dino,dan Soni mengangguk sambil tersenyum tolol. Jessica mengalihkan padanganya pada Andra yang masih melenggang santai menghampirinya. “Kenapa sih,Dra?kok lemes banget?”tanyanya dengan suaranya manjanya dan khas. Andra hanya tersenyum tanpa menjawab. Yah,jelas saja dia tak tampak bersamngat Bayu dan Dino. Dia kan gak naksir Jessica?”Temenin gue makan siang yuk.” “Ditraktir,gak?” Soni—yang selelu paling bokek—menatap Jessica penuh harap. “Iya,dong. Sebagai tanda terima kasih gue pada kalian.” Dalam sekejap,mata Andra langsung berbinar. Kalau saja dia kalau Jessica akan mentraktirnya,pasti dia juga bersamangat saat begitu melihat kehadran cewek itu. Sudah menjadi moto hidupnya untuk pantang menolak makan gratis. “Yuk,naik mobil gue aja.”Keempat remaja itu langsung menghambur ke mobil Jessica. Dengan kecepatan dan kegesitan yang luar biasa. Bayu mendahului Dino memilih pintu depan. Tapi, baru saja tangannya hendak membuka pintu,tiba-tiba...... “Andra duduk didepan ya.” Suara Jessica terdengar begitu lembut dan manja,tapi mampu mematah kan semangat Bayu dalam sekejap. Dengan tubuh lunglai. Bayu menjauhi pintu depan dan masuk ke joke belakang, bergabung dengan Soni dan Dino. Duduk diam dengan muka tetekuk sejuta lipatan. Setibanya di restoran piza—yang letaknya tak jauh dari sekolah—perebutan kursi strategis kembali terulang. Tapi,persis seperti sebelumnya, Andra yang tak berusaha apa-apa akhirnya malah memenangi kursi kehormatan—di sisi Jessica. Tentu saja atas permintaan putri cantik pujaan-Bayu dan-Dino. Andra hanya dapat membalas tatapan kesal kedua sahabatnya dengan pandangan tak berdaya. Ini semua kan bukan salahnya? Dia hanya mengikuti keinginan Jessica hanya karena cewek itu akan mentraktir mereka. Kalau tidak,dengan senang hati,dia akan menawarkan kursi yang di dudukinya kepada kedua sahabatnya. “Andra makasih yaa udah nolongin gue waktu itu,”Jessica langsung membuka perakapan,begitu pelayan selesai mencatat pesanannya.”Untung aja ada elo,kalo nggak,gue gak tahu deh gimana nasib gue.” Andra menatap Jessica dengan alis terangkat. Cara cewek itu mengungkapkan rasa terima kasih,tampak begitu berlibihan dimatanya. Andra yakin,Jessica tidak akan kenapa-napa meskipun dia tidak menolongnya. Toh,cewek itu tidak sedang di culik,Cuma tasnya saja yang diambil?lagipula, Andra sendirian saat itu. Masih ada Bayu,Soni,dan Dino—yah,walaupun yang satu ini Cuma bantu teriak-teriak doang. “Gue kan gak sendirian,ada Bayu,Soni,ama Dino?’ Jessica memalingkan wajahnya kepada ketiga sahabat Andra dan tersenyum manis pada mereka. “Iya,gue juga berterima kasih banget sama kalian.”Hidung ketiga remaja itu lansung push-up. Wajah mereka merona,tersipu. “Nggak perlu berterima kasih koq,Jess. Udah kewajiban kita menolong orang.”Dino membusungkan dada. Sok heroik. Bayu menganguk setuju dengan ekspresi wajah berwibawa. Jessica mengangguk,lalu mengalihkan pandangannya pada Andra. Tak lagi memedulikan Bayu dan Dino yang masih ingin diperhatikan. Masih ingin mendapatkan pujian atas aksi kepahlawanan mereka. “Lo,kenapa sih, Ndra? koq diem aja dari tadi? Lagi ada masalah ya?”Nggak.” gumam andra sambil mengeluarkan ponselnya yang berdering dalam saku jaketnya. Ternyata ada SMS masuk. “Cewek lo ya?” Andra melirik Jessica dari sudut matanya,menggeleng sekadarnya, lalu kembali membalas SMS. Tiba-tiba ponsel ditangannya lenyap dari pandangannya,dirampas oleh Jessica. “Tuh,kan dari cewek!” seru Jessica kesal setelah melihat nama si pengirim SMS. Dia mendongak,menatap Andra dengan wajah cemberut. “Anggie?”Siapa sih?Pacar lo ya?”Eh,bukan......”Andra menatap Bayu dengan dagunya. “Anggie itu adiknya Bayu.”Elo pacaran dengan adik Bayu?”tanya Jessica tak percaya.”Eh.nggak gitu. Bayu dan gue sepupuan.”Kalian sepupuan?” Jessica menatap Bayu dan Andra bergantian,dengan pandangan curiga. Berusaha mencari kemiripan mereka. “Iya.” Bayu mengangguka, tanpa semangat. “Ibunya Andra itu kakaknya ibu gue.” Jessica mengalihkan pandangannya kembali pada Andra,menatapnya dengan pandangan aneh,”jadi lo pacaran sama sepupu lo sendiri?” Selama beberapa detik,Andra hanya bengong. Dikiranya,penjelasannya dengan Bayu sudah cukup untuk membuat Jessica mengerti. Tapi,ternyata........”Nggak gitu. Anggie itu udah kaya adik gue sendiri.”Oooooh,”Jessicamenghela nafas lega. Wajahnya kembali berseri dan senyumnya kembali mengembang. “Balikin Hp gue.” Andra menjulurkan tangannya,hendak mengambil kembali ponselnya,tapi Jessica berkelit. Cewek itu malah ngutak-ngatik ponsel Andra. Andra mengeluh dalam hati. Dia tak suka ponselnya di kutak-kutik oleh orang yang baru saja dikenalnya, tapi percuma saja melarang cewek ini. Senyum Jessica mengembang saat mendengar ponselnya berbunyi. Dia menatap Andra dengan penuh kemenangan sambil mengembalikan ponselnya. “Sekarang gue punya nomor HP elo. ”Dia mendesah puas. “Gue juga udah nge-save nomor gue di HP elo. Jangan dihapus,ya.” Andra hanya menatap Jessica tanpa berkedip. Tak bisa berkata-kata. Dia melirik pada Bayu dan Dino, tapi keduanya sedang menyibukan diri dengan pesanan yang baru datang. Andra mengeluh dalam hati. Dia mengkhawatirkan Bayu. Sikap Jessica hanya akan memicu kekesalan sepupunya. Padahal, baru beberapa hari Bayu marah padanya hanya gara-gara gebetan cowok ini malah naksir padanya. Dan sekarang, Jessica. Tapi keterlaluan Bayu marah padanya. Bayu kan lihat sendiri,kalau ini bukan salahnya? Bukan dia yang meminta nomor Jessica, kan? Andra menghela napas, pelan. Kalau Dino sih tak perlu dikahwatirkan. Sahabatnya yang satu ini selalu mengalah pada Bayu. Sementara Soni, tampaknya dia tak perlu peduli dengan Jessica. Seperinya cowok yang satu ini cuma bisa jatuh cinta pada jenggkol. --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Ringtone ponsel yang menjerit-jerit di pagi buta, menyentak Andra dari mimpi indahnya. Sambil mendesah kesal, Andra memaksa kelopak matanya yang terasa lengket agar terbuka, lalu meraih ponsel yang tak pernah jauh darinya. Andra menyibak poninya, mencoba memfokuskan matanya pada layar ponsel. Berusaha sekuat tenaga membaca nama penelpon nekat yang telah mengganggu tidurnya. Keningnya berkerut saat mendapati nama Jessica tertera disana. Mau apa cewek itu meneleponnya?Tengah malam buta seperti ini pula? Andra mendekatkan ponsel ketelinga dan bergumam dengan suara mengantuk. “Andra.....? ini aku Jessica.”Hmm,ada apa?” Andra melirik jam wekernya. Matanya terbelalak saat melihat jam menunjukan pukul 2:35. “Draaaa,aku gak bisa tidur niiih,” rengek Jessica manja. “tadi aku mimpi serem banget. Aku ketemu lagi sama pencopet yang waktu itu, Draaa....Dia—“Ini cewek waras gak sih? Telepon di jam maling beraksi Cuma cerita untuk soal mimpi? Nggak penting banget! Andra mendengus kesal. “Draa,kamu dengerin aku gak siiih?” “Gue ngantuk Jess!” “Kamu koq gitu sih, Draa... sama sekali gak mau ngerti kalau aku ketakutan?” Kalau saja Andra tega, ingin sekali dia bilang, “Emang gue pikirin?! Elo mau takut atau enggak, nggak ada urusannya dengan gue!”, Lalu menutup telepon. Tapi, Andra sering gak tegaan. Jadi, terpaksa dia dengar ocehan tak penting Jessica sambil setengah tidur. “Draaa....” Panggil manja Jessica menyantak Andra kembali kealam sadar. “Hmmmm....” “Besok sore jalan yuk.” “Nggak bisa gue ada pratikum sampe sore.” Jessica mendesah kecewa. “Pulang pratikum deeh,” rengeknya. “Nggak bisa juga. Gue harus belajar buat ujian praktek.” Kembali Jessica mendesah kecewa. “Terus, bisanya kapan?” “Kapan-kapanlah.” “Koq kamu gitu sih?” Jessica ngambek. “Sabtu yaaa....” Andra mendengus kesal. “Ya,liat nanti aja deh.” “ya udah,besok aku telepon lagi yaaaa...” “Hmmm.” Sebenarnya Andra tak berniat mengiyakannya tapi tampaknya hanya itu cara terbaik supaya bisa kembali segera tidur. Tampa mendengar Jessica mengucapkan kata-kata manis, ‘met bobo’ya. Sweet dream, atau apapun. Andra sudah mematikan ponselnya dan terlempar kembali ke alam mimpi. <><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><> --BAB 3 (chapter three)— Andra bete bukan kepalang. Semakin lama sikap Jessica semakin menjengkelkan, hingga mengganggu stabilitas nasional kehidupannya. Setiap hari ada aja alasan cewek itu menelipon, dari membicarakan hal-hal yang tak penting dan membosankan, sampai mengajak jalan. Hanya satu hal yang membuat Andra lega. Ternyata, kali ini Bayu tidak marah padanya. Sepupunya itu malah mendukung desakan Dino dan Soni agar Andra mau menerima ajakan jalan Jessica. Andra paham maksud mereka. Ketiga sahabatnya tahu, dia tak sudi hanya jalan berdua saja dengan Jessica dan akan mengajak mereka. Awalnya, Andra merasa kesal karena merasa dimanfaatkan ketiga sahabatnya, demi makan gratis. Tapi setelah dia berfikir ulang, dia bisa memanfaatkan keoportunisan sahabat-sahabatnya. Bagaiman kalau dia mengajukan syarat kepada Jessica, mau jalan dengannya. Asal ketiga sahabatnya ikut bersama mereka. Andra berharap kehadiran ketiga sahabatnya membuat Jessica kapok mentraktir Bayu, Dino, dan Soni sama saja mentraktir orang sekampung. Makan mereka banyak. Belum lagi Andra. Andra berharap, Jessica menolak persyaratannya dan membatalkan acara jalan-jalan mereka. Kalau cewek itu pintar, dia pasti melakukannya. Daripada bangkrut, iya kaaan? Tapi, ternyata, harapan Andra sia-sia. Jessica memang kedengaran ragu saat mendengarkan Andra mengajukan pesyaratannya, Tapi—setelah terdiam sejenak—akhirnya menyetujui. Andra mengeluh dalam hati. Ternyata, Jessica lebih bodoh dari pada yang dia duga. Yah, Andra berharap Jessica akan segera menyadari kesalahannya sebelum cewek itu benar-benar bengkrut. Acara nonton di PS Sabtu itu menjadi pengalaman paling traumatis bagi Andra. Bagaimana tidak? Jessica benar-benar bersikap seolah-olah Andra adalah cowoknya. Cewek itu bersikap manja—yang menurut Andra berlebihan—dan menggelendot terus hingga membuat Andra risih. Andra kapok! Begitu pulang dari PS, Andra bersumpah tidak mau lagi di ajak jalan Jessica. Rayuan apappun yang yang di umbar ketiga sahanat oportunisnya, tidak akan menggoyahkan imannya! Sudah cukup! Tapi, tampaknya, Jessica sama sekali tak mengert. Sebelum Andra menolak, cewek itu malah semakin gencar meneleponnya. Tak peduli subuh atau tengah malam buta, cewek itu terus menelpon. Bahkan, saat Andra sedang ada pelajaran pun, cewek itu masih nekat menghubunginya. Padahal,seharusnya Jessica tahu dari pukul 7:00 sampai pukul 14:00, Andra sekolah. Belum lagi ada hari-hari tertentu yang dia harus pratikum sampai sore. Andra mendengus kesal. Memangnya cewek itu gak pernah SMA apa? Begitu lahir langsung terdaftar sebagai mahasiswi Pelita Bangsa? Akhirnya, Andra kehilangan kesabaran. Dia sengaja mematikan ponselnya sepanjang hari. Tapi, begitu dia mengaktifkan ponsel esok harinya, ringtone tanda SMS masuk tak henti-hentinya berbunyi. Andra sampai bengong melihat 27 SMS masuk berbondong-bondong masuk ke inbox nya—semuanya dari Jessica. Dan—seprti yang sudah di duganya—tidak ada satu pun yang penting. Hanya sekedar menanyakan dia di mana, lagi ngapain, dan akhirnya dia marah-marah karena Andra tidak membalas SMS dan tidak bisa di hubungi. Bahkan, di SMS ke -27, cewek itu mengancam tidak mau lagi menerima telepon jika Andra tidak menelpon dari jangka waktu yang telah ditentukan. Andra menggelengkan kepala. Cewek terrnyata hanya sekedar cantik, tapi IQ-nya tak beda jauh dari Soni. Mungkin malah lebih parah. Kalo IQ Soni jongkok, IQ Jessica bisa ngesot. Jessica kan sudah tahu menelponnya dan tahu kalau ponsel Andra tidak aktif. Jadi, bagaimana caranya Andra membaca semua SMS-nya? Mau mengancam bunuh diri tepat pukul 00:00sekalipun, Andra juga tidak akan tahu. Masasih kalau cewek itu tidak tahu kalau semua SMS yang dikirimnya ke-pending.? Andra nyegir. Ancaman jessica malah membuatnya senang dan benar-benar tidak menelpon. Tapi, tindakanya malah membuat Jessica semakin nekat. Saat pulang sekolah. Andra sudah mendapati Jessica sedang menunggu di depan sekolah. Cewek itu bersandar di mobilnya sambil bersendekap. Matanya mengamati satu demi satu siswa STM yang keluar dari sekolah. Ekspresi wajahnya tampak tak sabar. Dia juga tidak memedulikan mulut-mulut usil para siswa STM yang berkicau, mengenakan tank-top dan rok mini yang dikenakanya. Andra yang belum sempat keluar dari pintu gerbang. Bibirnya komat-kamit, sibuk menggerutu pelan. Andra jengkel setengah mati. Belum pernah—seumur hidupnya—dia merasa terganggu seperti ini. Kenapa sih cewek itu gak ngerti juga bahwa Andra gak ingin di ganggu? Saking jengkelnya, Andra berharap waktu akan terulang kembali—ke saat Jessica kecopetan. Tapi, kali Andra, tidak akan menolongnya. Tapi, Andra tahu,hal itu tak mungkin. Jadi, bagaimana kalau dia mencari pencopet itu saja,dan membayarnya untuk mencopet Jessica lagi? Hmmm,sepertinya ide yang bagus. Melihat Andra kembali ke area kelas, Bayu mengikutinya dengan wajah kebingungan. “Kenapa sih, Ndra?” “Ada Jessica” “Trus,kenapa? Siapa tau dia mau teraktir lagi,” kata Soni polos. Andra menatap cowok bertubuh besar itu, dengan tampang kesal. Sudah tahu kan, kalau otak burung onta Cuma sebesar matanya? Nah sepetinya otaknya, Soni lebih kecil lagi dari pada itu. ”Lo aja yang nemuin dia, sana!” Soni langsung terdiam sejuta bahasa begitu melihat sahabatnya sewot. Meskipun Andra bertubuh ceking,bogem mentahnya bisa bikin memar tujuh hari tujuh malam. “Eh, tapi ide lo bagus juga,” kata Bayu lirih. Andra langsung melototi sepupunya. “Maksud lo?!” “Yah, biar saja Soni yang nemuin dia. Biar Soni bilang ke dia kalo elo udah pulang atau gak masuk sekolah.” Andra menatap sepupunya dalam beberap saat. Perlahan, wajahnya kembali cerah. Dia menganggukk, lalu menoleh kepada Soni. “Mau kan, Son?” “Tapi, kalo enggak ada elo, kita kan gak dapat makan gratis!” protes Soni. Dalam sekejap, wajah Andra kembali tertekuk seratus lipatan. Matanya melotot galak. “makan gratisan aja yang ada di otak elo! Nanti, gue yang traktir elo!” Mata Soni berbinar. “Beneeeer...?” tanya penuh harap. “Iya! Udah, sana! Cepetan temuin tuh cewek!” Andra mendorong tubuh sahabatnya yang besar itu. “Awas kalo salah ngomong!” ancamnya galak. Tanpa Andra menyalak lagi, Soni terbirit-birit mendatangi Jessica. Andra langsung berbalik, menghampiri bengku panjang yang terletak di koridor depan dan mengempaskan badannya ke atasnya. Duduk dengan wajah cemberut. “kayaknya Jessica bener-bener naksir elo deh, Dra,” Dino buka suara. “Ah, udah gila kali lo! Nggak mungkinlah!” Bukanya Andra gak tau soal itu. Dia tak sebodoh Soni hingga harus mendapat penjelasan dari Dino. Dia hanya tak ingin mengakuinya. Entah kenapa. “Nggak mungkin gimana? Liat aja sikap dia waktu kita jalan waktu sabtu kemarin. Seperti kita kambing congek aja. Nggak dianggap sama sekali,” kata Bayu, bete. Dino mengangguk. “Kalo dia gak punya perasaan sama elo, kenapa juga dia marah hanya gara-gara HP elo gak aktif? Sampe disamperin kesini, ya kan?” Andra tidak menganggapi ucapan kedua sahabatnya. Matanya menatap lurus pada lapangan basket di hadapannya. Bayu memainkan tali backpack-nya. “Mungkin dia terkesan waktu elo nolongin dia waktu itu.” “Tapi, kan nggak Cuma gue yang nolongin dia. Elo pada juga,” gumam Andra tanpa menoleh. Bayu dan Dino menatap Andra penuh arti, lalu mengangkat bahu. “Kalo saja Jessica tahu yang sebenarnya. Kira-kira dia masih naksir elo gak ya?” gumam Dino dengan suara ngambang. Andra menatap tajam pada sahabatnya yang satu ini. “Maksud lo, apa?!” “Udah beres, Bos!” Seruan soni bagai dewa penyelamat bagi Dino. Andra langsung mengalihkan pandangannya kepada cowok bertubuh besar itu dan menatapnya tak yakin. “Beneeer......?” Soni mengangguk mantap. Andra segera beranjak dari bangku dan melangkah menghampiri gerbang dalam. Ketiga sahabatnya mengikutinya tanpa berkata-kata. Dia mengintip dari balik jerujii besi, memeriksa keakuratan laporan soni. Ternyata, benar mobil Jessica sudah tidak ada lagi disana. Cewek itu sudah pergi. Wajah Andra pun kembali cerah. Sambil melangkah keluar gerbang, dia merangkul bahu Soni. “Yuk, gue traktir cendol.” “kok, Cuma cendol?” Soni menatap kecewa. “Bukannya elo mau traktir gue makan?” “Yaaah, kita makan cendol aja dulu, udah gitu, baru makan di rumah Bayu.” Bayu menoyor kepala Andra dengan kesal. “itu sih bukan traktir namanya!” “Lho, emangnya arti traktir apa? Gratisan kan?” Andra menatap wajah Bayu tanpa dosa. “Nah, makan dirumah elo gratis juga, kan?” “Bener.” Soni mengangguk-ngangguk penuh semangat. “Penipuan!”geruru Bayu manyun. Walaupun kesal karena merasa dikaddalin Andra, dia tetap mengikuti sepupunya itu menuju para pedagang jajanan berkumpul—dibawah pohon asem didepan sekolah. Andra nyaris tersendak es cendolnya. Saat melihat BMW merah mengilat menepi dan berhenti 15 meter dari tukang es cendol. Jantungnya mendadak hiperaktif. Bukannya itu mobil yang hampir menabraknya waktu itu? Si cowok cakep dan keren itu? Andra menahan napas saat melihat pintu terbuka. Perutnya langsung mlilit saat melihat cowok yang turun dari dalamnya. Benar dugaannya. Itu si Ganteng. Tapi, ngapain dia kesini? “Eh, itu kan cowok yang waktu itu hampir nabrak elo, Dra.” Soni duduk di sebelah Andra menyikutnya. “Ngapain dia ke sini?” Andra mengangkat bahunya, berusaha untuk tenang walaupun jantungnya sudah jumpalitan di dalam dada. Sambil menyuplai es cendol kedalam mulutnya. Diam-diam dia memperhatikan si Ganteng. Cowok itu menghampiri segerombolan murid STM yang sedang nongkrong. Keningnya berkerut saat teman-teman satu sekolah menunjuk ke arahnya. Jantung Andra berdebar semakin cepat, nyaris menyamai beduk dimalam takbiran, saat melihat si Ganteng melangkah kearahnya. “Eh,dia ke sini lho,” Dino menyikut Andra.”mau ngapain ya?” “Jangan-jangan elo udah bikin penyok mobilnya?” bayu menatap Andra dengan pandangan menuduh. Andra melompat galak pada sepupunya. “Gue gak sampe ke tabrak, yang ada gue yang penyok,bukan mobilnya!” Bayu tidak mengatakan apa-apa lagi karena si Ganteng sudah berada di dekat mereka. Menatap mereka satu per satu dengan penuh tanda tanya. Saat pandangan mata si Ganteng bertemu dengannya, Andra merasa ada badai di dalam perutnya. Si Ganteng mengalihkan pandangannya pada Dino. “Elo yang namanya Andra?” Dino menggeleng cepat, sementara Andra langsung terbatuk karena keselek es cendol. Terkejut, karena si Ganteng mengetahui namanya. Bahkan, memang mencarinya! “Jadi, siapa yang namanya Andra?” Dino,Bayu,dan Soni saling bertukar pandang, lalu menatap cowok itu dengan pandangan menyelidik—sementara Andra masih terbatuk-batuk hingga tidak bisa berbicara. Dino menelan es cendolnya, lalu bertanya dengan gaya yang dianggap dia cool banget, “Ada perlu apa cari Andra?” “urusan pribadi.” “Urusan pribadi?” Bayu menatap siganteng dengan pandangan curiga. “Urusan a—“ “G-Gue Andra,” potong Andra cepat, begitu batuknya mereda. Si Ganteng cepat menoleh pada Andra. “Jadi, elo yang namanya Andra?” Tanyanya setelah terdiam sejenak. Andra mngangguk. Kejadian itu begitu cepat. Sebelum andra dan ketiga sahabatnya menyadari apa yang telah terjadi. Si Ganteng sudah meraih bagian depan sweter Andra dan menariknya hingga berdiri. Otak Andra beku seketika. Tidak bisa berpikir. Dia hanya merasakn nyeri yang tiba-tiba menyerang rahangnya. Membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan, lalu akhirnya terkapar di tanah. Ternyata, si Ganteng baru saj meninjunya. Intuisinya yang tak berfungsi membuat Andra tak sempat menangkis serangan si Ganteng. Andra mendongak dan mendapati si Ganteng sudah berjongkok di sisinya. Belum Andra puli dari rasa terkejutnya, cowok itu sudah kembali mencengkram bagian depan sweter-nya. “jangan pernah ganggu cewek gue lagi PAHAM?!” Andra masih telalu terkejut untuk bisa bersuara. Dai hanya menatap si Ganteng dengan pandangan bingung, tidak mengerti apa yang dibicarakan cowok itu. Suara keras cowok itu menyadarkan Bayu dan Soni dari keterpakuan mereka. Segera mereka bangkit dari kursi kayu dan menghampiri andra yang masih setengah terbaring di tanah. “Apa-apaan sih lo?!” Bayu menarik tangan si Ganteng hingga cengkramannya pada sweter Andra terlepas. “Mau cari ribut di sini?!” Si Ganteng menepis tangan Bayu, lalu berdiri. Ditatap nya Bayu dengan mata menyala-nyala di penuhi amarah. Bayu membalasnya dengan pandangan menantang. Sama sekali tak peduli cowok di hadapannya bertubuh tinggi dari pada dia. Soni segera memasang kuda-kuda, siap melancarkan jurus Babon ngamuk dari gunung Semeru andalannya. Mata Andra menangkap beberapa siswa STM berlari menghampiri. Menyadari suasana sudah semakin tegang dan bisa berakibat fatal bagi si Ganteng. Andra segera bangkit dari tanah. “Bukan gue yang mulai, tapi temen lo!” lolong si Ganteng murka. “Bilang ya sama temen lo itu, supaya jangan ganggu cewek gue!” “Cewek lo...?” Bayu menatap si Ganteng dengan pandangan bingung. “Siapa?” “Tanya aja sama temen lo itu!” Perlahan otak Andra mulai mencerna ucapan si Ganteng. Ternyata si Ganteng sudah punya cewek? Tiba-tiba saja rasa kecewa menghajar hatinya. Tapi si Ganteng sudah salah paham. Andra tidak pernah mengganggu satu mahluk pun yang berwujud cewek kok. Tapi, dia sangat ingin tahu siapa kira-kira cewek yang beruntung itu. Andra menatap si Ganteng, penasaran. “Siapa..? “Ngeledek lo ya?!” si Ganteng menunding hidung Andra dengan telunjuknya. “Nggak usah pura-pura gak tau deh. Bayu menepiskan telunjuk si Ganteng dari depan hidung Andra. “Jangan sembarang nuduh lo!” Andra memegang tangan Bayu. “Udah, Bay...”katanya menenangkan, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada si Ganteng “Gue beneran gak tau siapa yang lo maksud.” Dengan tenang, Andra menyeka sudut bibirnya yang berdarah. “Iya, Setahu gue, nggak ganggu cewek orang.” Akhirnya Dino ikut bersuara. Si Ganteng menatap Andra dengan pandangan garang “Jessica! Masih nggak ngaku?!” Seluruh badan Andra seolah-olah tersambar petir. Dia menatap si Ganteng dengan mata terbelalak dan mulut menganga lebar. Andra sama sekali tidak menyangka, ternyata Jessica selama ini mengejar-ngejar dia adalah cewek si Ganteng, jadi, cewek bolot menyebalkan itu, pacar si Ganteng? Kok bisa sih si Ganteng punya cewek kaya gitu? Ada perasaan tak suka muncul dari hati Andra. “Ooooh, jadi elo cowoknya Jessica?” Bayu akhirnya dapat kembali bersuara. “Nah,elo tau, kan?!” “Tau, siiih...”Bayu menggaruk kepalanya. “Tapi, setau gue, bukan Andra yang ganggu cewek lo yang ngejar-ngejar Andra.” “Ah, gue nggak percaya!” tukas si Ganteng diam sejenak.
Andra mengangkat bahunya santai.
“Tanya aja sama semua orang yang ada di sini kalo gak percaya. Semua juga tau
siapa cewek yang selalu nyamperin gue kesini. Yang bawa Honda Jazz gold.” Si
Ganteng kembali terdiam. Dipandanginya murid STM yang telah menggerumi mereka,
satu-per satu. Semua kepala yang di tatapnya mengangguk, membenarkan ucapan
Andra. “Tadi, cewek elo juga kesini, tapi Andra nyuruh temen gue bilang ke dia
kalo Andra udah pulang.” Si Ganteng menatap Dino dengan pandangan tak percaya.
Tapi, Andra bisa melihat matanya mulai menyiratkan kebimbangan. Bayu
mengangguk. Memperkuat ucapan Dino. SMS dari cewek elo.” Andra mengeluarkan
ponsel dari saku celananya, lalu menyerahkan pada si Ganteng. Untunglah ddia
belum sempat menghapus SMS dari Jessica-27 SMS yang membuatnya bete setengah
mati. Bbiar si Ganteng liat sendiri seperti apa kkelakuan Jessicas di belakang
dia. Si Ganteng mengotak-atik ponsel Andra. Perlahan, ekspresi tegang di wajah
si Ganteng berkurang. Setelah membaca seluruh SMS Jessica. Si Ganteng
mengembalikan ponsel Anndra. Ada secuil kkepuasan di hati Anndra melihat betapa
terpukulnya si Gannteng. “Sekarang
percaya kan?!” tanya Dino sok galak.
Tanpa
berkata-kata lagi, si Ganteng memutar tubuhnya. Menyeruak kerumunan murid STM,
lalu melangkah dengan lunglai ke mobilnya. Sikap si Ganteng makin membuat Dino
naik darah. “Dasar, nggak tau aturan! Udah main hajar orang seenaknya, malah
ngeloyor gitu aja tanpa minta maaf!” “Udalah,Din.” Andra segera menenangkan
sahabatnya. Sebelum kompor Dino membakar emosi teman-temannya yang lain. Bisa
gawat urusannya. “Biarin aja.” “Lo gak pa-pa?” Bayu mengamati bibir bayu yang
pecah dan mulai membengkak. Andra melotot, pura-pura jengkel. “Ah, nggak usah
sok perhatian deh! Bukan pertama kalinya kan, lo liat gue begini?!”
Bayu
nyengir. “Iya siih, elo udah sering lebih bonyok lagi daripada ini.” Andra
nyengir sambil mengeluarkan dompetnya, lalu membayar es cendol. Walaupun
ekspresi wajahnya tampak tenang,sebuah kenyataan yang dihamparakn di hadapannya
begitu memukulnya. Membuatnya kecewa. Ternyata, cowok yang selama ini membuat
dia aneh adalah pacar cewek cantik yang mengejarnya?! Hyaah ampuuuun, kacau
banget sih hidupnya?! Dan, meskipun di pikirkan berkali-kali, dia masih nggak
ngerti kenapa si Ganteng mau punya pacar seperti Jessica. Memang siih, cewek
itu cantik. Cantik banget, malah. Tapi, sumpah, nyebelin banget! Andra menghela
napas panjang. Ada rasa sedih yang merayapi hatinya. Sndrs sudah belajar
taekwondo sejak SD. Dihajar hingga babak belur, bukan lagi hal baru dan awam
baginya. Tapi, tetap saja, dihajar cowok yang disukainya terasa lebih
meyakitkan. Bahkan, jauh lebih menyakitkan daripada semua rasa sakit yang
pernah dirasakannya meskipun di kumpulkan menjadi satu. Yah, walaupun dia
tampak selalu kuat dan tegar, di balik sosok yang selalu di tampilkannya dia
kan tetap punya perasaan? Andra mendesah sedih.
“BAB 4 (chapter
four)”
“Hhh
gue males ikut pratikum nih,” kata Bayu kepasa ketiga sahabatnya, begitu mereka
berada di luar kelas. “Cabut aja yuk!” “Cabut ke mana?” “Ke rumah lo aja Bay,”
celetuk Soni. Bayu menggeleng. “Nyokap tau kalo hari ini ada pratikum.” Dia
menepuk pundak Andra. “Ke mal yang baru itu aja yuk!” “Lo kaya cewek aja, Bay.”
Dino mencibir. “Hobi banget ke mal?” “Itu Cuma strategi, bodoh!” Bayu meloto kesal. “Justru karena cewek suka
banget ke mal, kita kan bisa cuci mata. Syukur-syukur ada yang nyangkut.”
Dino
menepuk keningnya. “Iya,ya. Bego banget sih gue?” “Baru tau?” gumam Andra. Dino
bete, tapi tidak membantah. “Lagian, mumpung muka Andra lagi jelek, peluang
kita pasti lebih besar.” Dina terbahak puas sambil mengangguk setuju. “sialan
lo!” gumam Andra tanpa semangat, lalu menoleh pada Soni. “Son, jalani tugas elo.”
Soni langsung ngacir pergi. Paham akan tugasnya memata-matai kondisi di luar
sekolah dan mengusir Jessica kalau cewek itu kembali nongol. Setelah Soni
kembali dan mengatakan situasi aman terkendali, keempat remaja itu melangkah
menyebrangi halaman sekolah dengan sikap yang tidak mencurigakan. Seolah dalam
otak mereka tidak ada rencana kabur dari sekolah.
Dugaan Bayu benar. Siang itu banyak sekali
cewek ABG yang berkunjung ke mal baru itu. Bagai Don Juan, Bayu dan Dino asyik
tebar pesona. Dada di busungkan. Cara berjalan di gagah-gagahkan. Lempar senyum
kanan kiri bagai selebritas papan atas. Tak ada satu pun gerai yang mereka
masuki—bahkan, sama sekali tidak mereka lirik. Mata mereka sibuk berkeliaran
mencari wajah-wajah manis yang sear. Mencari tanda-tanda “Berbalas Pantun” dari
cewk-cewk yang menerima anugerah dari senyuman mereka. Tapi,NIHIL! Tak ada satu
cewek pun yang menanggapi obral senyum cowok itu. Malah, banyak buang muka atau
bergegas menjauh. Setelah satu jam berkeliling tanpa tujuan—apalagi
hasil—akhirnya Bayu dan Dino menerima nasib mereka, dan memutuskan untuk makan
di foodcourt. Semangat kedua cowok itu muncul lagi saat melihat benyak cewek
ABG yang sedang makan di sana. Dengan tak sabar, kedua cowok itu memesan
makanan disalah satu gerai, lalu terburu –buru mengahampiri meja kosong yang
paling dekat dengan gerombolan cewek manis itu.
Andra hanya bisa menggelengkan kepala melihat kenorakan kedua
sahabatnya. Ingin rasanya dia duduk terpisah dari kedua cowok itu. Tapi,
setelah celingukan beberapa detik, tampaknya dia tidak punya pilihan lain.
Masih ada dua meja kosong di foodcourt itu, tapi letaknya terlalu jauh
dariletak meja pilihan Bayu dan Dino. Dengan pasrah, Andra meletakan bakinya
meja dan duduk di sisi Soni. Melahap ayam goreng nya, tanpa banyak bicara. “Gue
ke toilet dulu ya,” gumam Andra setelah makanannya ludes. Tanpa menunggu jawaban dari ketiga sahabatnya,
Andra bangkit dan segera menuju ke toilet. Kening Andra berkerut saat tidak
melihat petugas toilet yang biasa meminta uang Rp500 di depan pintu. Di satu
sisi, pergi ke toilet tanpa membayar cukup menyenangkan bagi Andra, tapi di
sisi lain membuatnya cemas. Andra membuka pintu toilet dan mengintip ke dalam.
Berharap bisa menemukan petugas toilet disana. Tapi, situasi didalam toilet
juga kosong. Tak ada siapa-siapa. Perasaan Andra mulai tak enak, tapi lebih tak
enak lagi menahan pipis hingga tiba dirumah. Setelah bimbang beberapa detik,
akhirnya dia tetap mengosongkan kandung kemihnya. Tapi, dia harus bergegas
sebelum bertemu dengan pengunjung yang ingin menggukan toilet. Andra segera
masuk ke salah satu bilik. Usai melakukan panggilan alam, Andra bergegas keluar
dari biliknya. Tapi, malang tak dapat di tolak. Pintu toilet terbuka dan wanita
setengah baya dengan make-up tebal, melangkah masuk. Wanita itu tertegun saat
melihat Andra.
“Ini
toilet wanita kan?” Andra mengangguk, gugup. Perlahan-lahan, kebingungan di
wajah wanita itu menghilang dan berganti dengan tatapan gusar. “Trus, ngapain
kamu di sini?!” melihat ekspresi wanita itu, Jantung Andra langsung mencelos.
“Saya....”
“Mau nginintip ya?!” dia memotng ucapan Andra.
“Kamu pasti mau mengintip saya, kan?!”suuara cempreng itu meninggi, bbahkan
nyaris melengking mengalahkan suara mpok Nori. Sangat menyangakitkan telinga.
Andra melongo selama bebrapa saat. Memangnya, wanita ini pikir dirinya siapa?
Megan Fox? Tapi, perlahan rasa panik mengguyurnya. “Nggak, Bu. Say—“
“Nggak! Nggak! Nggak apaan?!” Wajah wanita itu
mulai memerah. “Kalo nggak punya niat kotor, ngapain kaamu di toilet wanita?”
Dia menatap Andra dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. “Kamu bukan petugas
toilet kan?” Andra menggeleng. “Tapi,say—“ “Kecil-kecil udah mesum!” Sebelum
Andra menyadari bencana apa yang akan terjadi, wanita itu sudah berderap
mendekati Andra. Di cengkramnya tangan
Andra, lalu di pukulnya kepala Andra dengan tas tangannya. “nggak bisa di
biayari nih yang kayak gini!